Minggu, 08 Maret 2015

Sejarah Kimia

1.1 Lahirnya kimia
Kimia modern dimulai oleh kimiawan Perancis Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794). Ia
menemukan hukum kekekalan massa dalam reaksi kimia, dan mengungkap peran oksigen dalam
pembakaran. Berdasarkan prinsip ini, kimia maju di arah yang benar.
Sebenarnya oksigen ditemukan secara independen oleh dua kimiawan, kimiawan Inggris Joseph
Priestley (1733-1804) dan kimiawan Swedia Carl Wilhelm Scheele (1742-1786), di penghujung
abad ke-18. Jadi, hanya sekitar dua ratus tahun sebelum kimia modern lahir. Dengan demikian,
kimia merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda bila dibandingkan dengan fisika dan
matematika, keduanya telah berkembang beberapa ribu tahun.
Namun alkimia, metalurgi dan farmasi di zaman kuno dapat dianggap sebagai akar kimia. Banyak
penemuan yang dijumpai oleh orang-orang yang terlibat aktif di bidang-bidang ini berkontribusi
besar pada kimia modern walaupun alkimia didasarkan atas teori yang salah. Lebih lanjut, sebelum
abad ke-18, metalurgi dan farmasi sebenarnya didasarkan atas pengalaman saja dan bukan teori.
Jadi, nampaknya tidak mungkin titik-titik awal ini yang kemudian berkembang menjadi kimia
modern. Berdasarkan hal-hal ini dan sifat kimia modern yang terorganisir baik dan sistematik
metodologinya, akar sebenarnya kimia modern mungkin dapat ditemui di filosofi Yunani kuno.
Jalan dari filosofi Yunani kuno ke teori atom modern tidak selalu mulus. Di Yunani kuno, ada
perselisihan yang tajam antara teori atom dan penolakan keberadaan atom. Sebenarnya, teori atom
tetap tidak ortodoks dalam dunia kimia dan sains. Orang-orang terpelajar tidak tertarik pada teori
atom sampai abad ke-18. Di awal abad ke-19, kimiawan Inggris John Dalton (1766-1844)
melahirkan ulang teori atom Yunani kuno. Bahkan setelah kelahirannya kembali ini, tidak semua
ilmuwan menerima teori atom. Tidak sampai awal abad 20 teori ato, akhirnya dibuktikan sebagai
fakta, bukan hanya hipotesis. Hal ini dicapai dengan percobaan yang terampil oleh kimiawan
Perancis Jean Baptiste Perrin (1870-1942). Jadi, perlu waktu yang cukup panjang untuk
menetapkan dasar kimia modern.
Sebagaimana dicatat sebelumnya, kimia adalah ilmu yang relatif muda. Akibatnya, banyak yang
masih harus dikerjakan sebelum kimia dapat mengklaim untuk mempelajari materi, dan melalui
pemahaman materi ini memahami alam ini. Jadi, sangat penting di saat awal pembelajaran kimia
kita meninjau ulang secara singkat bagaimana kimia berkembang sejak kelahirannya.
a Teori atom kuno
Sebagaimana disebut tadi, akar kimia modern adalah teori atom yang dikembangkan oleh filsuf
Yunani kuno. Filosofi atomik Yunani kuno sering dihubungkan dengan Democritos (kira-kira
460BC- kira-kira 370 BC). Namun, tidak ada tulisan Democritos yang tinggal. Oleh karena itu,
sumber kita haruslah puisi panjang “De rerum natura” yang ditulis oleh seniman Romawi Lucretius
(kira-kira 96 BC- kira-kira 55 BC).
Gambar 1.1 Dunia atom Democritos. Sayang, kita tidak dapat menduga gambaran atom seperti yang
dibayangkan oleh Democritos. Kimiawan Jerman telah menyarankan gambaran atom sebagaimana
dibayangkan Democritos. (a) atom zat yang manis (b) zat yang pahit (direproduksi dari: F. Berr, W. Pricha,
Atommodelle, Deutsches Museum, 1987.)
Atom yang dipaparkan oleh Lucretius memiliki kemiripan dengan molekul modern. Anggur (wine)
dan minyak zaitun, misalnya memiliki atom-atom sendiri. Atom adalah entitas abstrak. Atom
memiliki bentuk yang khas dengan fungsi yang sesuai dengan bentuknya. ”Atom anggur bulat dan
mulus sehingga dapat melewati kerongkongan dengan mulus sementara atom kina kasar dan akan
sukar melalui kerongkongan”. Teori struktural modern molekul menyatakan bahwa terdapat
hubungan yang sangat dekat antara struktur molekul dan fungsinya.
Walaupun filosofi yang terartikulasi oleh Lucretius tidak didukung oleh bukti yang didapat dari
percobaan, inilah awal kimia modern.
Dalam periode yang panjang sejak zaman kuno sampai zaman pertengahan, teori atom tetap In
heretikal (berlwanan dengan teori yang umum diterima) sebab teori empat unsur (air, tanah, udara
dan api) yang diusulkan filsuf Yunani kuno Aristotole (384 BC-322 BC) menguasi. Ketika otortas
Aristotle mulai menurun di awal abad modern, banyak filsuf dan ilmuwan mulai mengembangkan
teori yang dipengaruhi teori atom Yunani. Gambaran materi tetap dipegang oleh filsuf Perancis
Rene Descartes (1596-1650), filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Freiherr von Leibniz (1646-1716),
dan ilmuwan Inggris Sir Issac Newton (1642-1727) yang lebih kurang dipengaruhi teori atom.
b Teori atom Dalton
Di awal abad ke-19, teori atom sebagai filosofi materi telah dikembangkan dengan baik oleh
Dalton yang mengembangkan teori atomnya berdasarkan peran atom dalam reaksi kimia. Teori
atomnya dirangkumkan sebagai berikut:
Teori atom Dalton:
(i) partikel dasar yang menyusun unsur adalah atom. Semua atom unsur tertentu identik.
(ii) massa atom yang berjenis sama akan identik tetapi berbeda dengan massa atom unsur jenis
lain.
(iii) keseluruhan atom terlibat dalam reaksi kimia. Keseluruhan atom akan membentuk senyawa.
Jenis dan jumlah atom dalam senyawa tertentu tetap.
Dasar teoritik teori Dalton terutama didasarkan pada hukum kekekalan massa dan hukum
perbandingan tetap1, keduanya telah ditemukan sebelumnya, dan hukum perbandingan berganda2
yang dikembangkan oleh Dalton sendiri.
1 Senyawa tertentu selalu mengandung perbandingan massa unsur yang sama.
2 Bila dua unsur A dan B membentuk sederet senyawa, rasio massa B yang bereaksi dengan sejumlah A dapat direduksi
menjadi bilangan bulat sederhana.

Atom Democritos dapat dikatakan sebagai sejenis miniatur materi. Jadi jumlah jenis atom akan
sama dengan jumlah materi. Di pihak lain, atom Dalton adalah penyusun materi, dan banyak
senyawa dapat dibentuk oleh sejumlah terbatas atom. Jadi, akan terdapat sejumlah terbatas jenis
atom. Teori atom Dalton mensyaratkan proses dua atau lebih atom bergabung membentuk
materi. Hal ini merupakan alasan mengapa atom Dalton disebut atom kimia.
c Bukti keberadaan atom
Ketika Dalton mengusulkan teori atomnya, teorinya menarik cukup banyak perhatian. Namun,
teorinya ini gagal mendapat dukungan penuh. Beberapa pendukung Dalton membuat berbagai
usaha penting untuk mempersuasi yang melawan teori ini, tetapi beberapa oposisi masih tetap ada.
Kimia saat itu belum cukup membuktikan keberadaan atom dengan percobaan. Jadi teori atom
tetap merupakan hipotesis. Lebih lanjut, sains setelah abad ke-18 mengembangkan berbagai
percobaan yang membuat banyak saintis menjadi skeptis pada hipotesis atom. Misalnya, kimiawan
tenar seperti Sir Humphry Davy (1778-1829) dan Michael Faraday (1791-1867), keduanya dari
Inggris, keduanya ragu pada teori atom.
Sementara teori atom masih tetap hipotesis, berbagai kemajuan besar dibuta di berbagai bidang
sains. Salah satunya adalah kemunculan termodinamika yang cepat di abad 19. Kimia struktural
saat itu yang direpresentasikan oleh teori atom hanyalah masalah akademik dengan sedikit
kemungkinan aplikasi praktis. Tetapi termodinamika yang diturunkan dari isu praktis seperti
efisiensi mesin uap nampak lebih penting. Ada kontroversi yang sangat tajam antara atomis
dengan yang mendukung termodinamika. Debat antara fisikawan Austria Ludwig Boltzmann
(1844-1906) dan kimiawan Jerman Friedrich Wilhelm Ostwald (1853-1932) dengan fisikawan
Austria Ernst Mach (1838-1916) pantas dicatat. Debat ini berakibat buruk, Boltzmann bunuh diri.
Di awal abad 20, terdapat perubahan besar dalam minat sains. Sederet penemuan penting,
termasuk keradioaktifan, menimbulkan minat pada sifat atom, dan lebih umum, sains struktural.
Bahwa atom ada secara percobaan dikonfirmasi dengan percobaan kesetimbangan sedimentasi
oleh Perrin.
Botanis Inggris, Robert Brown (1773-1858) menemukan gerak takberaturan partikel koloid dan
gerakan ini disebut dengan gerak Brow, untuk menghormatinya. Fisikawan Swiss Albert Einstein

(1879-1955) mengembangkan teori gerak yang berdasarkan teori atom. Menurut teori ini, gerak
Brown dapat diungkapkan dengan persamaan yang memuat bilangan Avogadro.
D =(RT/N).(1/6παη) (1.1)
D adalah gerakan partikel, R tetapan gas, T temperatur, N bilangan Avogadro, α jari-jari partikel
dan η viskositas larutan.
Inti ide Perrin adalah sebagai berikut. Partikel koloid bergerak secara random dengan gerak Brown
dan secara simultan mengendap ke bawah oleh pengaruh gravitasi. Kesetimbangan sedimentasi
dihasilkan oleh kesetimbangan dua gerak ini, gerak random dan sedimentasi. Perrin dengan teliti
mengamati distribusi partikel koloid, dan dengan bantuan persamaan 1.1 dan datanya, ia
mendapatkan bilangan Avogadro. Mengejutkan nilai yang didapatkannya cocok dengan bilangan
Avogadro yang diperoleh dengan metoda lain yang berbeda. Kecocokan ini selanjutnya
membuktikan kebenaran teori atom yang menjadi dasar teori gerak Brown.
Tidak perlu disebutkan, Perrin tidak dapat mengamati atom secara langsung. Apa yang dapat
dilakukan saintis waktu itu, termasuk Perrin, adalah menunjukkan bahwa bilangan Avogadro yang
didapatkan dari sejumlah metoda yang berbeda berdasarkan teori atom identik. Dengan kata lain
mereka membuktikan teori atom secara tidak langsung dengan konsistensi logis.
Dalam kerangka kimia modern, metodologi seperti ini masih penting. Bahkan sampai hari ini
masih tidak mungkin mengamati langsung partikel sekecil atom dengan mata telanjang atau
mikroskop optic. Untuk mengamati langsung dengan sinar tampak, ukuran partikelnya harus lebih
besar daripada panjang gelombang sinar tampak. Panjang gelombang sinar tampak ada dalam
rentang 4,0 x 107- 7,0 x10–7 m, yang besarnya 1000 kali lebih besar daripada ukuran atom. Jadi
jelas di luar rentang alat optis untuk mengamati atom. Dengan bantuan alat baru seperti
mikroskop electron (EM) atau scanning tunneling microscope (STM), ketidakmungkinan ini dapat
diatasi. Walaupun prinsip mengamati atom dengan alat ini, berbeda dengan apa yang terlibat
dengan mengamati bulan atau bunga, kita dapat mengatakan bahwa kita kini dapat mengamati
atom secara langsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar